Kisah Seorang Kuli dan Cincin Batu Permata

0
84
Kisah cincin permata
Kisah cincin permata

Abdullah bin Faraj merupakan seorang ahli ibadah. Suatu ketika ia membutuhkan seorang kuli untuk bekerja padanya. Maka pergilah ia ke pasar untuk melihat-lihat kuli. Saat tiba dibagian akhir, ia pun melihat ada seorang remaja berkulit kuning langsat yang sedang membawa bungkusan besar. Remaja tersebut mengenakan jubah serta kain dari bulu domba kasar. Abdullah pun berkata pada remaja itu :

“Kamu mau kerja?”.

Dia menjawab, “Iya”.

“Berapa upah yang kamu minta ?”. Tanya Abdullah.

Dia menjawab, “Satu dirham dan satu daniq (Jika ditotal maka sama dengan tujuh daniq)”.

Abdullah pun berkata, “Berdirilah dan bekerja padaku”.

Dia berkata, “Dengan satu syarat”.

“Apa itu ?”. Tanya Abdullah.

Dia menjawab, “Jika telah datang waktu dzuhur aku akan keluar wudhu dan mengerjakan sholat kemudian kembali bekerja. Jika datang waktu asar demikian pula”.

Abdullah pun menjawab, “Baik”.

Ia pun kemudian mengikuti Abdullah sampai rumah dan bekerja serta tidak berbicara sepatah katapun sampai tiba waktu dzuhur dan berkata, “Wahai Abdullah muadzin telah mengumandangkan adzan dzuhur”.

Abdullah menjawab, “Terserah engkau saja”.

Kemudian dia keluar untuk mengerjakan sholat dan kembali bekerja dengan giat. Ketika tiba waktu asar, ia pun berkata lagi “Wahai Abdullah muadzin telah mengumandangkan adzan asar”.

Abdullah menjawab, “terserah engkau saja”.

Kemudian setelah shalat asar, ia pun kembali bekerja sampai senja hari. Abdullah pun memberikan upahnya dan remaja itu pun bergegas pulang.

Setelah beberapa hari kemudian, Abdullah pun membutuhkan kuli kembali. Isteri Abdullah pun berkata agar mencari kuli remaja kemarin karena kerjanya sangat bagus.

Abdullah pun mendatangi pasar dan langsung mencari remaja itu. Ternyata anak remaja itu tidak diketemukannya hingga orang-orang di pasar berkata bahwa anak remaja itu hanya bekerja pada hari sabtu dan dia selalu duduk sendirian di bagian belakang. Abdullah pun memutuskan untuk pulang dan berencana mencari anak remaja itu pada hari Sabtu.

Baca Juga :  Perbedaan Batu Mulia & Kristal

Hari Sabtu pun tiba, Abdullah pun menemukan anak remaja yang selalu duduk di bagian belakang itu dan memintanya bekerja kembali padanya. Anak remaja itu pun menyetujui asal sesuai dengan persyaratan yang pernah ia ajukan sebelumnya. Abdullah pun setuju.

Anak itupun mulai bekerja dengan baik seperti sebelumnya. Saat pekerjaannya telah selesai, Abdullah pun memberikan upah dan tambahan baginya. Namun anak remaja itu tak mau menerima tambahan upah yang diberikan kepadanya.

Meski sudah dibujuk, ia tetap tak mau menerima. Ia bahkan marah dan meninggalkan Abdullah sendirian. Abdullah merasa sedih dan menyusul serta membujuknya. Akhirnya anak remaja itu menerima upahnya tanpa mengambil tambahan dari Abdullah.

Setelah beberapa lama kemudian, Abdullah kembali membutuhkan kuli. Ia pun datang ke pasar pada hari Sabtu namun tak mendapati si anak remaja itu. Ternyata dari kabar orang-orang di pasar, sang anak remaja itu ternyata sedang sakit. Dari orang dipasar juga ia akhirnya jadi tahu bahwa anak remaja itu hanya bekerja satu hari saja dalam seminggu dengan meminta upah tujuh daniq. Itu berarti setiap hari ia hanya makan satu daniq. Sisa 6 hari lainnya ia gunakan untuk belajar agama.

Abdullah pun berniat menjenguk anak remaja itu. Setelah menanyakan lokasi rumahnya pada orang-orang disekitar, akhirnya sampailah ia dirumah si anak remaja tersebut. Ternyata disana ia tinggal di rumah seorang nenek tua.

Abdullah pun kemudian masuk menemuinya. Ternyata ia benar-benar sakit. Dibawah kepalanya terdapat batu bata yang dipergunakan sebagai bantal. Setelah mengucapkan salam, Abdullah pun berkata, “Apakah engkau membutuhkan bantuan?”.

Ia menjawab, “Iya, jika memang tidak merepotkanmu”.

Abdullah pun berkata, “Tidak merepotkan insya Allah”.

Baca Juga :  Penambang Ini Temukan Zamrud Seberat 360 Kg

Remaja itu pun berkata, “Apabila aku mati nanti maka juallah ini. Cucilah jubahku serta kain bulu kambing ini kemudian kafani aku dengannya ! Bukalah saku jubahku karena di dalamnya ada sebuah cinci. Ambillah cincin itu tolong perhatikanlah kapan Harun Ar Rasyid lewat disuatu jalan. Berdirilah di lokasi yang memungkinkan dia bisa melihatmu. Perlihatkan cincin itu padanya maka ia akan memanggilmu. Serahkan cincin itu padanya dan jangan kau lakukan hal itu kecuali setelah aku mati.”

Abdullah pun menyanggupinya.

Setelah anak remaja itu meninggal dunia, Abdullah pun melaksanakan apa yang diperintahkan. Ketika Harun Ar Rasyid lewat, Abdullah pun segera memanggilnya dan berkata, “Wahai amirul mukminin aku memiliki titipan untuk engkau”. ia pun langsung memperlihatkan cincin permata itu.

Harun Ar Rasyid menyuruh Abdullah ikut bersamanya. Setelah sampai, Ia pun lantas bertanya, “Siapa engkau ini ?”.

“Abdullah bin Al Faraj”. Ia menjawab.

“Cincin ini engkau dapat darimana ?”.

Maka Abdullah pun menceritakan kisah remaja yang ia temui. Tiba-tiba Harun Ar Rasyid menangis terisak-isak sampai Abdullah pun merasa iba kepadanya. Setelah agak tenang Abdullah pun bertanya kepadanya, “Wahai amirul mukminin, siapakah remaja itu sebenarnya? ”.

Ia menjawab, “Ia adalah anakku”.

Abdullah pun bertanya kembali, “Bagaimana hal ini bisa terjadi ?”.

Ia menjawab, “Ia lahir sebelum aku menjabat sebagai khalifah. Ia tumbuh menjadi anak yang shalih, ia menghafal al qur’an dan mempelajari ilmu syar’i. Ketika aku diangkat menjadi khalifah ia lalu meninggalkanku dan tak mau menikmati harta dunia yang aku miliki sedikitpun juga. Maka aku menyerahkan cincin batu permata ini kepada ibunya agar ibunya mau menyerahkan cincin ini kepadanya. Ia adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Namun semenjak ibunya meninggal aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya kecuali kabar yang telah engkau sampaikan kepadaku”.

Baca Juga :  Fakta Unik Tentang Batu Permata Tourmaline

Kemudian Harun Ar Rasyid berkata lagi, “Malam ini keluarlah bersamaku menuju kuburan anakku”.

Manakala kami sampai dikuburan anaknya ia pun duduk sambil menangis terisak-isak. Ketika fajar telah terbit ia pun bangun dan kembali lagi.

Kisah ini dialih bahasakan secara bebas dari Ghuroba’ minal Mukminin : 41 Oleh Al Imam Al Aajurry rahimahullahu ta’alaMaktabah Syamilah).

Sumber : https://kisahmuslim.com/2453-kisah-putra-raja-dan-cincin-permata.html

(Visited 37 times, 1 visits today)
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here