Petani Karet Alih Profesi Jadi Penggali Batu Permata

0
323
Petani Karet Alih Profesi Jadi Penggali Batu Permata
Petani Karet Alih Profesi Jadi Penggali Batu Permata

Di dunia ini tidak semua tempat mengandung batu permata. Di Indonesia hanya beberapa tempat yang mengandung batu permata antara lain di Provinsi Banten dengan Kalimaya-nya, di Lampung dengan batu jenis-jenis anggur yang menawan dan jenis Cempaka, di Pulau Kalimantan dengan Kecubungnya (amethys) dan Intan (berlian).

Ternyata di Kecamatan Lengkiti Kabupaten OKU terindikasi sebagai tempat sebaran bahan mentah batu permata bebagai jenis.

“Alhamdulillah ternyata di perut bumi ini mengandung aneka jenis batu pertama,” terang Arif Bal Husni.

Ia menambahkan, setidaknya sudah ditemukan empat jenis batu permata (kecubung, sangkis, lavender dan spritus). Menurut ayah dua anak ini sebaran batu permata memang sudah terlihat beberapa Desa seperti Simpang Empat Talang Ogan, kemudian di Desa Segarakembang khususnya di Talangccanggung dan beebrapa desa sekitar.

Arif mengaku sudah mulai menggeluti kegiatan menggali batu permata ini sejak bulan Oktober 2013. Saat ini hampir 80 persen penduduk setempat sudah menekuni usaha menggali batu permata.

Di Desa Segarakembang, dari 600 KK penduduk desa 80 persen diantaranya sudah alih profesi dari petani karet atau petani kopi berpindah ke penggali batu permata. Apalagi saat ini karet sedang murah hanay Rp 6.000/kg dan kopi Rp 18.000/kg menunggunya setahun.

Diakui oleh Arif, sejak kegiatan menambang batu ini mulai ramai banyak pengusaha yang datang dari Palembang, Jakarta, Prabumulih dan Pulau Jawa lainnya. Para pengusaha ini membeli batu–batu hasil galian warga dengan harga sesuai kualitasnya, untuk batu lavender untuk kualitas asalan Rp 10 juta/kg semakin bagus kualitasnya semakin mahal harga. Sedangkan untuk batu sepritus kisaran Rp 15 juta/kg.

“Hampir dipastikan selalu dapat walaupun kecil kecil,” terang Arif.

Baca Juga :  Presiden-presiden Indonesia dan Cincin Batunya

Ia menambahkan untuk penggali berpenghasilan rata-rata Rp 100 ribu-600 ribu/hari. Bahkan kalau lagi mujur dapat bongkahanya penghasilan akan semakin fantastis lagi.

Warga disini sangat bersyukur mendapat anugrah dari perut bumi, yang berdampak pada meningkatnya kesejahteran rakyat. Sejak ada tambang tradisional penggalian batu permata ini lanjut Arif, kehidpuan masyarakat sudah mulai sejahtra bahkan ada yang sudah mampu membeli kendaraan, membuat rumah serat ada yang sudah membeli kebun dari hasil menambang.

Arif yang merupakan anak laki satu satunya jurangan karet asal Desa Segarakembang bernama Umarjani, mengaku lebih tertarik menambang batu. Apalagi hasilnya langsung bisa dinikmati, tidak perlu menunggu lama pembeli sudah menunggu dilokasi.

Sumber : http://palembang.tribunnews.com/2014/03/27/petani-karet-alih-profesi-jadi-penggali-batu-permata

(Visited 49 times, 1 visits today)
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here